Senin, 23 April 2012

PENGARUH SAAT PEMBERIAN EKSTRAK BAYAM BERDURI (Amaranthus spinosus) DAN TEKI (Cyperus rotundus) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TOMAT ( Lycopersicum esculentum)


PENGARUH SAAT PEMBERIAN EKSTRAK BAYAM BERDURI (Amaranthus spinosus) DAN TEKI (Cyperus rotundus) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TOMAT ( Lycopersicum esculentum)

THE EFFECT OF APPLICATION TIME OF SPINY AMARANTH  EXTRACTS
AND PURPLE NUTSEDGE
ON THE GROWTH AND YIELD OF TOMATO


Kharis Triyono
Fakultas Pertanian   Univ. Slamet Riyadi Surakarta


ABSTRACT
Research about the effect of application time of spiny amaranth extracts and purple nutsege  on the growth and yield of tomato was conducted at Mojosongo Surakarta from March until June 2008.Research aimed was to know that the spiny amaranth (Amaranthus spinosus) had the effect as the purple nutsedge (Cyperus rotundus) and are there different of alellophatic activity on either weeds
.Polybag experiment conducted in the plastic house,arranged in randomized complete block design [RCBD] with two factors and replicated three times.The first factor was special of weed,consisted of two levels; spiny amaranth and purple nutsedge.the second factor was time application of weed extract, consisted of three lefels; 2,4 and 6 weeks after planting.
Result of the analysis showed that spiny amaranth had effect and alellopathic potential as the purple nutsedge. Extract of weed kind and application time of weeds extract did not affected on the growth of tomato. Application time of extract affected on yield of tomato. There were interaction between application time of extract  and kind of weeds.

Key words : application time, weed extract ,yield of tomatonth had effect and alellopathic potential as the purple nutsedge.Extr





PENDAHULUAN

Tomat merupakan tanaman hortikultura yang banyak diusahakan di Indonesia baik di dataran tinggi maupun dataran rendah. Luas rata-rata pertanaman tomat antara tahun 1975 – 1980 sekitar 14.000 hektar tiap tahun dengan hasil yang masih rendah yaitu 4,7 ton per hektar. Rendahnya hasil tomat disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya pengelolaan gulma yang belum optimal. Gulma pada tanaman tomat perlu ditangani secara sungguh-sungguh karena dapat mengakibatkan penurunan hasil, akibat kompetisi dalam memperebutkan sarana tumbuh maupun akibat adanya alelopati. Kompetisi terjadi karena gulma dan tanaman mempunyai persyaratan tumbuh yang sama dan tersedia dalam jumlah terbatas. Alelopati terjadi karena gulma melepaskan senyawa kimia yang bersifat racun dan dapat menghambat pertumbuhan, bahkan dapat mematikan tanaman disekitarnya.
Tumbuh-tumbuhan juga dapat bersaing antar sesamanya secara interaksi biokimiawi, yaitu salah satu tumbuhan mengeluarkan senyawa beracun ke lingkungan sekitarnya dan dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan tumbuhan yang ada di dekatnya. Interaksi biokimiawi antara gulma dan pertanamanan antara lain menyebabkan gangguan perkecambahan biji, kecambah jadi abnormal, pertumbuhan memanjang akar terhambat, perubahan susunan sel-sel akar dan lain sebagainya.Beberapa species gulma menyaingi pertanaman dengan mengeluarkan senyawa beracun dari akarnya (root exudates atau lechates) atau dari pembusukan bagian vegetatifnya. Persaingan yang timbul akibat dikeluarkannya zat yang meracuni tumbuhan lain disebut alelopati dan zat kimianya disebut alelopat. Umumnya senyawa yang dikeluarkan adalah dari golongan fenol.
Senyawa-senyawa kimia yang mempunyai potensi alelopati dapat ditemukan di semua jaringan tumbuhan termasuk daun, batang, akar, rizoma, umbi, bunga, buah, dan biji. Senyawa-senyawa alelopati dapat dilepaskan dari jaringan-jaringan tumbuhan dalam berbagai cara termasuk melalui :
a.    Penguapan
      Senyawa alelopati ada yang dilepaskan melalui penguapan. Beberapa genus tumbuhan yang melepaskan senyawa alelopati melalui penguapan adalah Artemisia, Eucalyptus, dan Salvia. Senyawa kimianya termasuk ke dalam golongan terpenoid. Senyawa ini dapat diserap oleh tumbuhan di sekitarnya dalam bentuk uap, bentuk embun, dan dapat pula masuk ke dalam tanah yang akan diserap akar.


b.   Eksudat akar
      Banyak terdapat senyawa kimia yang dapat dilepaskan oleh akar tumbuhan (eksudat akar), yang kebanyakan berasal dari asam-asam benzoat, sinamat, dan fenolat.
c.    Pencucian
      Sejumlah senyawa kimia dapat tercuci dari bagian-bagian tumbuhan yang berada di atas permukaan tanah oleh air hujan atau tetesan embun. Hasil cucian daun tumbuhan Crysanthemum sangat beracun, sehingga tidak ada jenis tumbuhan lain yang dapat hidup di bawah naungan tumbuhan ini.
d.   Pembusukan organ tumbuhan
      Setelah tumbuhan atau bagian-bagian organnya mati, senyawa-senyawa kimia yang mudah larut dapat tercuci dengan cepat. Sel-sel pada bagian-bagian organ yang mati akan kehilangan permeabilitas membrannya  dan dengan mudah senyawa-senyawa kimia yang ada didalamnya dilepaskan. Beberapa jenis mulsa dapat meracuni tanaman budidaya atau jenis-jenis tanaman yang ditanam pada musim berikutnya.
Tumbuhan yang masih hidup dapat mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah. Demikian juga tumbuhan yang sudah matipun dapat melepaskan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah. Alang-alang (Imperata cyndrica) dan teki (Cyperus rotundus) yang masih hidup mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ di bawah tanah, jika sudah mati baik organ  yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah sama-sama dapat melepaskan senyawa alelopati.
Gulma yang umum terdapat pada tanaman tomat  antara lain Alternanthera phyloxeroides, Portulaca oleracea, Ageratum conyzoides, Eleusine indica, Amaranthus spinosus, Cynodon dactylon, Cyperus rotundus, Cyperus irria, Phylanthus niruri dan Panicum repens. (Moenandir, l990)
Mercado (Saranga dan Kuntohartono, l986) mengemukakan bahwa jenis gulma yang mempunyai sifat kompetitif kuat dapat memproduksi senyawa-senyawa kolin yang bersifat alelopati untuk mendominasi sumberdaya alam yang berada dalam keadaan terbatas dalam lingkungannya dan dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Hambatan pertumbuhan akibat alelopati dapat terjadi melalui hambatan pada pembelahan sel, pengambilan mineral, respirasi, penutupan stomata, sintesis protein dan aktivitas ensim.
Sanusi et al., (l98l) mengemukakan bahwa ekstrak akar Artemesia vulgaris, Ageratum honstanium, Imperata cylindrica, Paspalum conyugatum, Panicum repens, Penisetum clandestinum,Richardia brassiliensis dan Cyperus rotundus mempunyai pengaruh alelopati terhadap stek teh dan menekan pertumbuhannya.Gulma grinting (Cynodon dactylon) diketahui dapat menurunkan berat kering bibit tebu, diduga hal ini disebabkan pengaruh alelopati yang dikeluarkan oleh grinting. (Ronoprawiro et al., l988). Sedangkan menurut Utomo et al., (l990) ekstrak batang dan akar Boreria alata memberikan efek negatip yaitu menghambat pertumbuhan dan menurunkan hasil tanaman  kedelai . Demikian juga gulma Digitaria sanguinalis, Ambrosia psylostachia, Euophorbia sp. Dapat mengahsilkan toksin yang dapat menghambat fiksasi nitrogen dan proses nodulasi pada legume serta nitrifikasi dalam tanah.
Bayam berduri (Amaranthus spinosus) dam teki (Cyperus rotundus) merupakan tumbuhan bergolongan C4 dan tumbuhan golongan C4 umumnya mempunyai sifat kompetitif kuat. Berdasarkan pertimbangan bahwa gulma yang mempunyai sifat kompetitip kuat dapat memproduksi senyawa kimia yang bersifat alelopati, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui apakah gulma Amaranthus spinosus mempunyai kemampuan alelopati seperti pada Cyperus rotundus dan seberapa jauh akibat yang ditimbulkan oleh saat pemberian ekstrak gulma Amaranthus spinosus dan Cyperus rotundus pada tanaman tomat.
BAHAN DAN METODE
Penelitian dilakukan di rumah plastik  kebun percobaan Fak.Pertanian UNISRI Mojosongo Surakarta. Rancangan yang digunakan rancangan acak kelompok lengkap 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama jenis gulma yaitu gulma Amaranthus spinosus ( GI ) dan Cyperus rotundus (G2). Faktor kedua saat pemberian ekstrak yaitu : saat tanaman umur 2 minggu (Tl), saat tanaman umur 4 minggu (T2) dan saat tanaman umur 6 minggu (T3). Data hasil pengamatan dianalisis dengan sidik ragam dan uji jarak berganda Duncan pada jenjang nyata 5%.
Benih disemaikan dalam nampan plastic, setelah berumur 3 minggu dipindah tanam pada kantong plastik hitam (polibag) yang diisi pasir yang telah disterilkan dengan air panas sebagai media tanam. Pemupukan dengan pupuk NPK dan pupuk daun exel 0,4%. Pupuk N dan K diberikan setengah dosis dan pupuk P seluruh dosis diberikan saat tanaman berumur satu minggu. Setengah dosis pupuk N dan K diberikan pada saat tanaman berumur 3 minggu setelah tanam. Pupuk daun exel diberikan setiap 3 hari sekali.
Gulma Amaranthus spinosus dan Cyperus rotundus dibersihkan dari kotoran yang melekat, kemudian dikeringanginkan dan dioven pada suhu 80 derajad Celcius selama 24 jam. Setelah kering gulma dihancurkan dengan blender, kemudian di masukkan kedalam beker glass dan diberi aquades dengan perbandingan 1 : 6, beker glass ditutup rapat dan dibiarkan selama 24 jam kemudian disaring. Pemberian ekstrak gulma dilakukan sesuai perlakuan selama dua hari sebanyak 20 ml, sehingga setiap tanaman mendapat 40 ml.
Data yang diamati meliputi tinggi tanaman, luas daun dan berat kering tanaman umur 8 minggu setelah tanam, jumlah buah dan bobot buah per tanaman.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemberian ekstrak gulma Amaranthus spinosus dan Cyperus rotundus memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap tinggi tanaman, luas daun dan berat kering tanaman (Tabel l). Hal ini menunjukkan bahwa potensi alelopati dari gulma  Amaranthus spinosus tidak berbedanyata dalam mempengaruhi pertumbuhan tanaman tomat dengan gumna Cyperus rotundus. Demikian halnya dengan saat pemberian ekstrak gulma pada umur 2,4 dan 6 minggu setelah tanam memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata pada tinggi tanaman dan berat kering tanaman tetapi berbeda nyata terhadap luas daun. Hal tersebut menunjukkan bahwa perkembangan luas daun cukup peka terhadap senyawa yang bersifat alelopati. Semakin awal pemberian ekstrak gulma yang bersifat alelopati, maka akan semakin terhambat perkembangan daun dari tanaman tomat (luas daun semakin keci)
Daun merupakan aparat fotosintesis yang cukup penting. Tinggi rendahnya luas daun pada derajad tertentu berkorelasi positip terhadap hasil fotosintesis bersih, sehingga semakin tinggi luas daun akan semakin besar pula fotosintat yang dihasilkan untuk pertumbuhan dan pembentukan buah. Hal ini dapat ditunjukkan oleh bobot buah yang berbeda nyata lebih tinggi pada tanaman yang luas daunnya lebih tinggi.
Tabel 1.  Uji pembanding rerata dari tinggi tanaman, luas daun, berat kering jumlah buah dan bobot buah per tanaman.


Perlakuan
Tinggi Tanaman (Cm)
Luas daun

(Cm)
Berat Kering

  (gr)
Jumlah
buah
Bobot buah

   (gr)
A.spinosus (G1)
Crotundus (G2)

Umur 2 mst (T1)
Umur 4 mst (T2)
Umur 6 mst (T3)

G1T1
G1T2
G1T3
G2T1
G2T2
G2T3

81.21
81.68

79.46
81.70
83.18

78.88
81.70
83.06
80.04
81.70
83.30
773.88
791.99

627.63  a
780.45  b
940.75  c

621.72
763.98
935.95
633.52
796.93
945.54

426.88
427.14

423.74
428.77
428.48

420.65
427.07
432.92
426.84
430.51
424.04
4.06
4.66

4
4
5

4ab
3b
5a
4a
5a
5a

773.88
791.99

181.34 a
213.22 b
242.58 c

157.03
176.61
235.38
205.67
249.82
249.77
Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbedanyata pada uji Duncan taraf 5%.
Meskipun saat pertumbuhan tanaman peka terhadap alelopati seperti perkembangan luas daun, tetapi kemampuan tanaman dalam menghasilkan bahan kering tanaman tidak dipengaruhi saat pemberian senyawa alelopat. Hal ini ditunjukkan dengan tidak ada beda nyata dari berat kering tanaman pada pemberian ekstrak gulma pada umur 2, 4 dan 6 minggu setelah tanam.
Hasil tanaman tomat dipengaruhi oleh pemberian ekstrak gulma (Tabel 1). Jumlah buah dipengaruhi oleh jenis dan saat pemberian ekstrak gulma (interaksi). Jumlah buah nyata paling rendah pada pemberian ekstrak gulma A.spinosus. Pada saat tanaman umur 4 minggu. Pada umur tersebut tanaman sudah mulai dalam tahap pembentukan bunga. Pada periode ini jika tanaman mendapat gangguan dapat mempengaruhi pembentukan buah. Pemberian ekstrak gulma A spinosus pada tanaman tomat umur 4 minggu setelah tanam mengakibatkan bunga mengering sehingga sangat sedikit bunga yang dapat membentuk buah.
KESIMPULAN
1. Gulma A spinosus mempunyai kemampuan/potensi alelopati seperti gulma C rotundus
2. Pada awal pertumbuhan tanaman lebih peka terhadap pemberian ekstrak gulma, sehingga menyebabkan luas daun dan bobot buah per tanaman nyata lebih rendah.
3. Jumlah buah paling rendah dihasilkan pada pemberian ekstrak gulma A spinosus pada umur 4 minggu setelah tanam.

DAFTAR PUSTAKA
Fuji,Y. l993. The allelopathy effect of some rice varieties. Technical Bulletin no. 134
Moenandir, J . l990. Persaingan tanaman Budidaya dengan Gulma. Rajawali Press. Jakarta.101 p.
Nugroho.,A dan J. Moenandir. L988. Pengaruh Allelopati Teki terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kacang Tanah. Prosiding Konferensi IX HIGI. Bogor.
Sanusi, M O.R Madkar dan Suhargiyanto. L98l. Percobaan Pengaruh Alelopati Beberapa Jenis Gulma terhadap Stek The. Prosiding Konferensi VI HIGI. Medan
Saranga, SL dan T. Kuntohartono. L986. Pengaruh Ekstrak Teki terhadap Pertumbuhan Tebu. Prosiding Konferensi VIII HIGI Bandung
Ronoprawiro,S.D Sasongko dan A.Mardjuki. l988. Kemungkinan pengaruh Alelopati Grinting (Cynodon dactylon) terhadap Pertumbuhan Tebu. Prosiding Konferensi IX HIGI Bogor
Sastrouto,o, S.S. l990. Ekologi Gulma. Gramedia Pustaka Utama Jakarta. 217 p.
Utomo I.H., R. Daos dan Warma. L990. Studi Alelopati Boreria alata terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kedelai dan Padi Gogo. Buletin Agronomi Edisi September

i alelopati dari gulma t









Tidak ada komentar:

Posting Komentar